Hubungan Pengelolaan Kelas dengan Prestasi Belajar Siswa


Pengelolaan Kelas dan Prestasi Belajar Siswa


Dalam proses pembelajaran di sekolah, guru sering kali mengalami hambatan terutama kegaduhan di dalam kelas yang dilakukan oleh siswa. Keributan dan kegaduhan yang terjadi di kelas apabila tidak segera diatasi akan mengganggu pelaksanaan program pembelajaran dan dapat menghambat pencapaian target kurikulum. Oleh karena itu suasana kelas harus dijaga supaya tetap kondusif untuk pelaksanaan program pengajaran. Dengan demikian untuk mencapai tujuan pengajaran di sekolah diperlukan guru yang mampu mengelola kelas dengan baik (Purnomo, 2003:10).

Pengelolaan kelas merupakan usaha guru untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang memungkinkan kegiatan pengelolaan pengajaran dapat berlangsung dengan lancar sehingga tujuan pengajaran dapat dicapai (Toenlioe, 1992: 16). Kondisi belajar yang optimal dapat dicapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pelajaran. Kemampuan dalam mengelola kelas merupakan salah satu syarat profesionalisme guru, oleh karena itu keberhasilan dalam mengelola kelas dapat dijadikan indikator penting atas tercapainya tujuan pengajaran (Hasibuan dan Moedjiono, 1995:82).

Aktivitas belajar merupakan kegiatan yang melibatkan unsur jiwa dan raga. Belajar tidak akan pernah dilakukan oleh seseorang, khususnya siswa tanpa suatu dorongan yang kuat baik dari dalam maupun dari luar, yang keduanya memiliki peranan penting dalam menentukan tujuan belajar. Faktor yang mempengaruhi aktivitas belajar siswa salah satunya adalah motifasi. Motivasi merupakan gejala psikologis dalam bentuk dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu (Djamarah, 2002: 114).

Secara umum ada dua faktor yang dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa yaitu

  1. Faktor dari dalam diri siswa (instrinsik)

  2. Faktor dari luar diri siswa (ekstrinsik).
Kegiatan pengelolan kelas termasuk salah satu bagian dari motivasi ekstrinsik.

Adapun  merupakan sekumpulan motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar. Guru harus pandai mempergunakan motivasi ekstrinsik dengan benar agar supaya proses interaksi edukatif di kelas dapat tercapai.

Berbagai macam cara dilakukan guru untuk membangkitkan motivasi belajar anak didiknya, salah satunya adalah dengan cara mengelola kelas dengan segala komponennya (Hakim, 2000:15).

Secara teoritik dapat diketahui bahwa kegiatan pengelolaan kelas merupakan kemampuan atau ketrampilan guru, dalam mengelola siswa di kelas yang dilakukan untuk menciptakan dan mempertahankan suasana (kondisi) kelas yang menunjang program pengajaran guna meningkatkan prestasi belajar siswa.


©aroxx

Pengertian regresi pada metode penelitian


Regresi


Istilah regresi pertama kali digunakan oleh Francis Galton pada tahun 1887 ketika mengadakan penelitian tentang hubungan antara tinggi orang tua dengan tinggi anaknya, dan sampai pada kesimpulan bahwa rata-rata tinggi anak yang berasal dari orang tua yang tinggi lebih rendah dibanding rata-rata tinggi orang tuanya, sedangkan anak-anak yang berasal dari orang tua yang rendah, tinggi rata-ratanya lebih tinggi dari tinggi orang tuanya, dengan demikian terjadi regress (kemunduran) atau tendensi terjadinya penurunan. Selanjutnya istilah Regression digunakan untuk menggambarkan garis yang menunjukan arah hubungan antar variabel, serta dipergunakan untuk melakukan prediksi, selain istilah tersebut, di kalangan akhli Statistik ada juga yang menggunakan istilah estimating line atau garis taksiran sebagai padanan istilah Regresi.

Sutrisno Hadi dalam bukunya Analisis Regresi menyatakan bahwa analisis regresi bertujuan untuk :




  1. Memeriksa apakah garis regresi tersebut bakal efisien dipakai sebagai dasar

  2. Menghitung persamaan garis regresi

  3. Untuk mengetahui sumbangan relatif dan sumbangan efektif bila prodiktornya lebih dari satu variabel.





Regresi yang terdiri dari satu variabel bebas (predictor) dan satu variabel terikat (Response/Criterion) disebut regresi linier sederhana (bivariate regression), sedangkan regresi yang variabel bebasnya lebih dari satu disebut regresi jamak (Multiple regression/multivariate regression), yang dapat terdiri dari dua prediktor (regresi ganda) maupun lebih. Dalam persamaan regresi variabel bebas (predictor) biasanya dilambangkan dengan X, dan variabel terikat dilambangkan dengan Y, dalam penulisan persamaan Y perlu diberi topi (Y cap) untuk menunjukan Y yang diprediksi berdasarkan persamaan (Regression equation). Adapun bentuk persamaannya adalah :




  1. Ŷ = a + b X (Regresi linier sederhana)

  2. Ŷ = a + b1X1 + b2X2 (Regresi linier Ganda/dua prediktor)

  3. Ŷ = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 (Regresi linier tiga prediktor)




a adalah koefisien konstanta dari persamaan, yang berarti nilai Y pada saat nilai b = nol, dan pada saat ini garis regresi akan memotong garis Y, sehingga a juga biasa disebut intercept. Sementara itu b adalah koefisien regresi atau koefisien arah dari persamaan regresi, yang menunjukan besarnya penambahan Y apabila niai X bertambah sebesar satu.

Metode Pemberian Tugas dalam belajar mengajar


Pengertian Metode Pemberian Tugas



Menurut Roestiyah teknik pemberian tugas memiliki tujuan agar siswa menghasilkan hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama melakukan tugas, sehingga pengalaman siswa

dalam mempelajari sesuatu menjadi lebih terintegrasi. 


Jadi Pengertian Pengertian Metode Tugas adalah suatu metode mengajar yang diterapkan dalam proses belajar mengajar, yang biasa disebut dengan metode pemberian tugas.





Kelebihan dan Kelemahan Metode Pemberian Tugas




  • Kelebihan Metode Pemberian Tugas



Adapun yang menjadi kelebihan metode pemberian tugas  diantaranya adalah Metode ini merupakan aplikasi pengajaran modern disebut juga azas aktivitas dalam mengajar yaitu guru mengajar harus merangsang siswa agar melakukan berbagai aktivitas sehubungan dengan apa yang dipelajari, sehingga  metode pemberian tugas bisa,


  1. Mengembangkan kreativitas siswa

  2. Memupuk rasa percaya diri sendiri

  3. Mengembangkan pola berfikir dan ketrampilan anak.

  4. Mendorong belajar, sehingga tidak cepat bosan

  5. Membina tanggung jawab dan disiplin siswa.

  6. Membina kebiasaan siswa untuk mencari, mengolah menginformasikan dan dan mengkomunikasikan sendiri.




  • Kelemahan Metode Pemberian Tugas




  1. Sulit untuk dapat memenuhi pemberian tugas

  2. Tugas tersebut sulit dikontrol guru kemungkinan tugas itu dikerjakan oleh orang lain yang lebih ahli dari siswa.

  3. Dapat menurunkan minat belajar siswa kalau tugas terlalu sulit

  4. Pemberian tugas terlalu sering dan banyak, akan dapat menimbulkan keluhan siswa,

  5. Khusus tugas kelompok juga sulit untuk dinilai siapa yang aktif.

  6. Pemberian tugas yangmonoton dapat menimbulkan kebosanan siswa apabila terlalu sering.©Tetap Belajar





Metode Diskusi pada kegiatan belajar mengajar


Pengertian Lengkap Metode Diskusi



Metode diskusi adalah suatu cara mengelola pembelajaran dengan penyajian materi melalui pemecahan masalah, atau analisis sistem produk teknologi yang pemecahannya sangat terbuka.

Suatu diskusi dinilai menunjang keaktifan siswa bila diskusi itu melibatkan semua anggota diskusi dan menghasilkan suatu pemecahan masalah.

Metode diskusi adalah suatu cara mengajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama.




Kelebihan dan Kelemahan Metode Diskusi





  • Kelebihan Metode diskusi



Adapun yang menjadi kelebihan dari Metode diskusi diantaranya:


  1. Membina siswa untuk berpikir matang-matang sebelum berbicara.

  2. Mendidik siswa untuk belajar mengemukakan pikiran atau pendapat.

  3. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh penjelasan-penjelasan dari berbagai sumber data.

  4. Dengan mendengarkan semua keterangan yang dikemukakan oleh pembicara, pengetahuan dan pandangan siswa mengenai suatu masalah (problem) akan bertambah luas.

  5. Melatih siswa untuk berdiskusi dengan baik di bawah asuhan guru.

  6. Merangsang/memberi semangat kepada siswa untuk ikut mengemukakan pendapat sendiri, menyetujui atau menentang pendapat teman-temannya.

  7. Memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati pembaharuan suatu problem bersama-sama.

  8. Mengembangkan rasa solidaritas/toleransi terhadap pendapat yang bervariasi atau mungkin bertentangan sama sekali.

  9. Membina suatu perasaan tanggung jawab mengenai suatu pendapat, kesimpulan, atau keputusan yang akan atau telah diambil.

  10. Berdiskusi bukan hanya menuntut pengetahuan, siap dan kefasihan berbicara saja tetapi juga menuntut kemampuan berbicara secara sistematis dan logis.








  • Kelemahan metode Diskusi



Adapun yang menjadi Kelemahan dari metode Diskusi diantaranya:


  1. Pembicaraan dalam diskusi mungkin didominasi oleh siswa yang berani dan telah biasa berbicara. Siswa pemalu dan pendiam tidak akan menggunakan kesempatan untuk berbicara.

  2. Dalam sebuah kelas tidak semua siswa berani untuk menyatakan pendapat sehingga waktu akan terbuang karena menunggu siswa mengemukakan pendapat.

  3. Diskusi yang mendalam memerlukan banyak waktu.

  4. Sulit untuk menentukan batas luas atau kedalaman suatu uraian diskusi.

  5. Tidak semua topik dapat dijadikan metode diskusi hanya hal-hal yang bersifat problematis saja yang dapat didiskusikan.

  6. Memungkinkan timbulnya rasa permusuhan antarkelompok atau menganggap kelompoknya sendiri lebih pandai dan serba tahu daripada kelompok lain atau menganggap kelompok lain sebagai saingan, lebih rendah, remeh atau lebih bodoh.



Jadi untuk mengatasi kelemahan dari metode Diskusi adalah Guru harus mengambil alih pada saat jam pelajaran hampir selesai dan menenangkan siswa kalau ini hanyalah untuk melatih bagamaina cara siswa untuk berdiskusi dan saling memberikan pendapat/masukan pada Diskusi yang sesunggunya dalam hal ini jika sudah berbaur dengan masyarakat. Guru hendaknya bisa membuat suswa tertawa atau adanya humor agar ketegangan siswa setelah perdebatan dalam diskusi itu dianggap hanyalah pelatihan semata.©Tetap Belajar


Pengertian metode tanya jawab dalam proses belajar

Untuk mengetahui pengertian metode tanya jawab kita harus mengetahui pengertian metode terlebih dahulu.

Metode adalah cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan (Suryosubroto; 1995:149).

Sedangkan Menurut Rusyan (1996:3), metode merupakan suatu tata cara untuk melakukan kegiatan dalam rangka mencapai tujuan tertentu, maka dengan demikian metode pembelajaran adalah suatu tata cara yang berhubungan erat dengan pelaksanaan proses pembelajaran.

Metode adalah cara guru menyampaikan materi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan (Suprayekti; 2003:13).
Dari beberapa pengertian tersebut, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu cara yang digunakan guru dalam interaksi dengan peserta didik pada saat proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Metode pembelajaran yang digunakan membawa pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap pencapaian hasil yang diharapkan, baik berupa perubahan pengetahuan, perilaku dan keterampilan. Oleh karena itu, metode pembelajaran memegang peranan penting dan merupakan satu kunci keberhasilan proses belajar mengajar yang diselenggarakan.Kualitas belajar peserta didik dapat dicapai dengan menggunakan metode pembelajaran yang efektif, karena metode pembelajaran merupakan salah satu faktor yang mendukung terhadap keberhasilan belajar di samping faktor-faktor lainnya, seperti bahan pelajaran, kondisi belajar dan lain sebagainya.


Metode tanya jawab adalah suatu cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa tetapi dapat pula dari siswa kepada guru (Sudirman; 1992:199).

Metode tanya jawab dapat pula diartikan sebagai suatu cara untuk menyampaikan bahan pelajaran dalam bentuk pertanyaan dari guru yang harus dijawab oleh siswa (Depdikbud; 1994/1995:5).

Moedjiono dan Dimyati (1991/1992:41) mengungkapkan bahwa metode tanya jawab dapat pula diartikan sebagai format interaksi antara guru-siswa melalui kegiatan bertanya yang dilakukan oleh guru untuk mendapatkan respons lisan dari siswa, sehingga dapat menumbuhkan pengetahuan guru pada diri siswa.

Menurut pendapat Rusyan (1996:7), metode tanya jawab merupakan salah satu cara panyampaian pelajaran kepada siswa dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa apabila ada pertanyaan dari guru atau sebaliknya.

Dari beberapa pernyataan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa metode tanya jawab adalah cara penyajian bahan pelajaran dalam proses pembelajaran yang berbentuk pertanyaan yang harus dijawab, sehingga terjadi interaksi dua arah antara guru danpeserta didikuntuk memperoleh pengalaman guru pada peserta didik.

Tujuan utama penggunaan metode tanya jawab adalah agar peserta didik lebih termotivasi untuk belajar selama proses pembelajaran, sehingga baik guru atau peserta didik (siswa) sama-sama aktif dalam proses pembelajaran.©aroxx

Jenis-Jenis metode mengajar guru


gambar metode demonstrasi


Di dalam melaksanakan tugas sehari-hari tentu saja seorang guru selalu ingin agar berhasil dalam mengajar. Semua ilmu, pengetahuan, kecakapan dan keterampilan yang diajarkan kepada siswa diharapkan dapat diterima, dicamkan, diingat dan diproduksikan oleh siswa. Guru selalu mengharapkan agar segala sesuatu yang diajarkan akan menjadi milik siswa. Namun bukanlah pekerjaan mudah bagi seorang guru untuk mencapai atau memperoleh hasil seperti apa yang diharapkan. Mengajarkan suatu bahan pelajaran dengan baik, guru dituntut suatu usaha untuk melakukan pengorganisasian yang matang dari semua komponen dalam suatu situasi mengajar. Komponen-komponen itu antara lain: metode, tujuan, perlengkapan pelajaran dan evaluasi. Dalam sseluruh kegiatan belajar mengajar komponen metode memegang peranan yang penting, sebab tanpa metode mengajar yang tepat maka seluruh proses dan hasil belajar tidak akan berhasil.

Sebelum mengemukakan pengertian metode mengajar, dibawah ini akan dikemukakan pengertian dari metode.

Metode (method) secara harfiah berasal dari dua perkataan, yaitu meta berarti "melalui" dan hodos berarti "jalan" atau "cara". Metode berarti cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Dalam pemakaian yang umum metode diartikan sebagai cara melakukan sesuatu kegiatan atau cara melakukan pekerjaan dengan menggunakan fakta dan konsep-konsep secara sistematis.

Menurut arti kata Metode atau Metodologi berasal dari kata Metodos yang berarti jalan yang ditempuh  atau cara dan Logos berarti ilmu (Djajadisastra, 1985:12). Pendapat yang dikemukakan tersebut, dapat dijelaskan bahwa metode adalah ilmu yang mempelajari bagaimana cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai tujuan. Sedangkan Winarno Surachman (dalam Wiryawan, 1992:3), metode adalah cara yang didalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Pendapat diatas menunjukkan bahwa metode bukanlah suatu tujuan, melainkan cara untuk mencapai suatu tujuan karena berhasil tidaknya tujuan yang akan dicapai bergantung pada penggunaan metode yang tepat.

Tujuan belajar dari siswa adalah ingin mendapatkan atau menguasai pengetahuan yang diberikan oleh guru. Namun untuk mencapai tujuan tersebut harus mempunyai cara atau metode dalam mengajar, sebab tanpa metode atau cara dalam mengajar, kemungkinan besar tujuan yang diharapkan tidak akan tercapai. Sebab didalam situasi mengajar, guru harus benar-benar memperhatikan metode mengajar yang akan dipergunakan.

Tanpa metode mengajar yang tepat, proses belajar mengajar tidak akan berhasil. Untuk itu seorang guru harus menguasai berbagai metode mengajar agar supaya motif dan gairah belajar dari siswa selalu dapat dibangkitkan, dipupuk dan dikembangkan.
Dari pengertian tersebut diatas, dapat dikemukakan pengertian metode mengajar yang dikemukakan para ahli. Menurut Hasibuan (1990:3), metode mengajar adalah alat yang dapat merupakan bagian dari perangkat alat dan cara dalam pelaksanaan suatu strategi belajar mengajar.
Pendapat tersebut diatas mengemukakan bahwa metode mengajar adalah alat dan cara yang digunakan dalam pelaksanaan proses balajar mengajar yang digunakan sebagai strategi untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Selain metode mengajar, ada juga ahli lain yang mengemukakan istilah Metodologi pengajaran yaitu suatu ilmu mengenai prinsip-prinsip atau prosedur (cara) mengajar.

Dari pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa Metode Mengajar atau metodologi mengajar adalah alat dan cara yang digunakan oleh seorang guru untuk menyampaikan materi yang akan disajikan kepada siswa sehingga pengetahuan tentang metode mengajar sangat penting dalam suatu proses belajar mengajar untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan.

Adapun jenis metode mengajar yang digunakan guru dalam proses belajar, menurut Djajadisastra (1981:15) sebagai berikut:

1. Metode Ceramah.
2. Metode Tanya jawab.
3. Metode Diskusi.
4. Metode Tugas.
5. Metode Latihan.
6. Metode Buku Pelajaran.
7. Metode Bercerita.
8. Metode Demonstrasi.
9. Metode Eksperimen.
10. Metode Pemecahan Masalah.
11. Metode Berperan atau Sosiodrama.
12. Metode Kerja Kelompok.
13. Metode Proyek.
14. Metode Mengajar Berprograma.
15. Metode Karya Wisata.
16. Metode Berkemah.
17. Metode Mengajar Beregu.
18. Metode Survei Desa.

Dari semua metode mengajar yang telah dikemukakan diatas dapat dikatakan bahwa dalam proses balajar mengajar terdapat banyak metode mengajar, sehingga memungkinkan guru memilih metode mengajar yang sesuai dengan bahan pelajaran yang akan disajikan. Berhasil tidaknya tujuan yang akan dicapai sangat tergantung pada penggunaan metode yang tepat. Jadi untuk menunjang suatu proses balajar mengajar diperlukan penguasaan jenis-jenis metode mengajar oleh seorang guru untuk mencapai hasil yang diinginkan.


Dalam proses belajar mengajar, sebaiknya guru jangan hanya menggunakan satu macam metode mengajar saja untuk menyajikan bahan pelajaran kepada siswa, tetapi harus menggunakan lebih dari satu macam metode mengajar. Tentunya guru harus mampu menggunakan berbagai metode mengajar yang sesuai dengan bahan pelajaran yang akan disajikan untuk mencapai tujuan yang diinginkan, juga menghindari kebosanan siswa dalam menerima pelajaran



©aroxx

metode Demonstrasi dalam proses belajar




gambar metode ceramah



Sebagaimana yang telah dikemukakan diatas, bahwa metode mengajar itu terdiri dari berbagai jenis diantaranya adalah Metode Demonstrasi.



Menurut Muhibbin Syah (1995: 208) Metode Pembelajaran Demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan dan urutan melakukan kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan.



Sedangkan menurut Aminuddin Rasyad (2002: 8) metode demonstrasi adalah cara pembelajaran dengan memperagakan, mempertunjukkan atau memperlihatkan sesuatu di hadapan murid di kelas atau di luar kelas.



Menurut Zakiah Darajat metode demonstrasi adalah metode mengajar yang menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada anak didik. Memperjelas pengertian tersebut dalam prakteknya dapat dilakukan oleh guru itu sendiri atau langsung oleh anak didik. Dengan metode demonstrasi guru atau murid memperlihatkan pada seluruh anggota kelas atau proses. Sebaliknya dalam mendemonstrasikan pelajaran tersebut, guru lebih dahulu mendemonstrasikan yang sebaik-baiknya, lalu murid ikut mempraktekkan sesuai dengan petunjuk.



Sedangkan menurut Wina Sanjaya, metode demonstrasi dalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan. Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak lepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Walaupun dalam proses demonstrasi peran siswa hanya sekedar memperhatikan, akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih kongkret.



Demonstrasi adalah cara pengelolaan pembelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, benda, atau cara kerja suatu produk teknologi yang sedang dipelajari. Demontrasi dapat dilakukan dengan menunjukkan benda baik yang sebenarnya, model, maupun tiruannya dan disertai dengan penjelasan lisan.



Metode demonstrasi menurut Bahri & Zain (2006: 91) memiliki kelebihan dalam proses pembelajaran yaitu, dapat membuat pengajaran menjadi lebih jelas dan lebih kongkret, sehingga menghindari verbalisme (pemahaman secara kata-kata atau kalimat), Siswa lebih mudah memahami apa yang dipelajari, Proses pengajaran lebih menarik, Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dan kenyataan, dan coba untuk melakukannya sendiri.



Dalam demonstrasi diharapkan setiap langkah pembelajaran dari hal-hal yang didemonstrasikan itu dapat dilihat dengan mudah oleh murid dan melalui prosedur yang benar dapat pula dimengerti materi yang disajikan. Demonstrasi akan menjadi aktif jika dilakukan dengan baik oleh guru dan selanjutnya dilakukan oleh siswa. Metode ini dapat dilakukan untuk kegiatan yang alatnya terbatas tetapi akan dilakukan terus-menerus dan berulang-ulang oleh siswa. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa melalui metode demonstrasi guru memperlihatkan suatu proses, peristiwa atau cara kerja suatu alat kepada peserta didik, demonstrasi dapat dilakukan dengan berbagaia cara, dari yang sekedar memberikan pengetahuan yang sudah bisa diterima begitu saja oleh peserta didik, sampai pada cara agar peserta didik dapat memecahkan suatu masalah.



Sanjaya (2006), dan Sumantri dan Permana (1998/1999) mengemukakan bahwa demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan pada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik dalam bentuk sebenarnya maupun dalam bentuk tiruan yang dipertunjukkan oleh guru atau sumber belajar lain yang ahli dalam topik bahasan yang harus didemonstrasikan.



Metode Demonstrasi biasanya berkenaan dengan tindakan-tindakan atau prosedur yang dilakukan misalnya : proses mengerjakan sesuatu, proses menggunakan sesuatu, membandingkan suatu cara dengan cara lain, atau untuk mengetahui/melihat kebenaran sesuatu.



a. Karakteristik Metode Demonstrasi : 



1) Mempertunjukkan objek yang sebenarnya



2) Ada proses peniruan



3) Alat – alat bantu yang digunakan



4) Memerlukan tempat yang strategis yang memungkinkan seluruh siswa aktif



5) Dapat guru atau siswa yang melakukannya



6) Mengamati sesuatu pada objek yang sebenarnya



7) Berpikir sistematis



8) Pemahaman terhadap proses sesuatu



9) Menerapkan sesuatu cara secara paksa



10) Menganalisa kegiatan secara proses.





b. Tujuan melaksanakan Metode Demontrasi:



1) Mengajarkan suatu proses atau prosedur yang harus dikuasai oleh siswa.



2) Mengkongkritkan informasi atau penjelasan kepada siswa.



3) Mengembangkan kemampuan pengamatan kepada para siswa secara bersama-sama.







c. Alasan Penggunaan Metode Demonstrasi:



1) Tidak semua topik dapat dijelaskan secara gamblang dan konkrit melalui penjelasan atau diskusi.



2) Karena tujuan dan sifat materi pelajaran yang menuntut dilakukan peragaan berupa demonstrasi.



3) Tipe belajar siswa yang berbeda-beda, ada yang kuat visual, tetapi lemah dalam auditif dan motorik, ataupun sebaliknya.



4) Memudahkan mengajarkan suatu proses atau cara kerja.



5) Sesuai dengan langkah perkembangan kognitif siswa yang masih dalam fase operasional konkrit.



d. Kelebihan Metode Demonstrasi:



1) Pelajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkrit sehingga tidak terjadi verbalisme.



2) Siswa akan lebih mudah memahami materi pelajaran yang didemontrasikan itu.



3) Proses pembelajaran akan sangat menarik, sebab siswa tak hanya mendengar tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi.



4) Siswa akan lebih aktif mengamati dan tertarik untuk mencobanya sendiri.



5) Menyajikan materi yang tidak bisa disajikan oleh metode lain.





e. Kekurangan Metode Demonstrasi:



1) Tidak semua guru dapat melakukan demonstrasi dengan baik.



2) Terbatasnya sumber belajar, alat pelajaran, media pembelajaran, situasi yang sering tidak mudah diatur dan terbatasnya waktu.



3) Demonstrasi memerlukan waktu yang lebih banyak dibanding dengan metode ceramah dan tanya jawab.



4) Metode demonstrasi memerlukan persiapan dan perancangan yang matang.







f. Cara Mengatasi Keterbatasan Metode Demonstrasi:



1) Guru harus terampil melakukan demonstrasi.



2) Melengkapi sumber, alat dan media pembelajaran yang diperlukan untuk demonstrasi.



3) Mengatur waktu sebaik mungkin.



4) Membuat rancangan dan persiapan demonstrasi sebaik mungkin.





g. Langkah-langkah dalam Metode Pembelajaran Demonstrasi



Menurut Hasibuan dan Mujiono (1993: 31) langkah-langkah metode Pembelajaran  demonstrasi adalah sebagai berikut:



1) Merumuskan dengan jelas kecakapan dan atau keterampilan apa yang diharapkan dicapai oleh siswa sesudah demonstrasi itu dilakukan.



2) Mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh, apakah metode itu wajar dipergunakan, dan apakah ia merupakan metode yang paling efektif untuk mencapai tujuan yang dirumuskan.



3) Alat-alat yang diperlukan untuk demonstrasi itu bisa didapat dengan mudah, dan sudah dicoba terlebih dahulu supaya waktu diadakan demonstrasi tidak gagal.



4) Jumlah siswa memungkinkan untuk diadakan demonstrasi dengan jelas.



5) Menetapkan garis-garis besar langkah-langkah yang akan  dilaksanakan, sebaiknya sebelum demonstrasi dilakukan, sudah dicoba terlebih dahulu supaya tidak gagal pada waktunya.



6) Memperhitungkan waktu yang dibutuhkan, apakah tersedia waktu untuk memberi kesempatan kepada siswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan komentar selama dan sesudah demonstrasi.



7) Selama demonstrasi berlangsung, hal-hal yang harus diperhatikan:



Keterangan-keterangan dapat didengar dengan jelas oleh siswa.



Alat-alat telah ditempatkan pada posisi yang baik, sehingga setiap siswa dapat melihat dengan jelas.



Telah disarankan kepada siswa untuk membuat catatan-catatan seperlunya.



8) Menetapkan rencana untuk menilai kemajuan siswa. Sering perlu diadakan diskusi sesudah demonstrasi berlangsung atau siswa     mencoba melakukan demonstrasi.



h. Kegiatan Pelaksanaan Metode Demonstrasi



1) Kegiatan Pembukaan



- Aturlah tempat duduk yang memungkinkan setiap siswa dapat memperhatikan apa yang didemonstrasikan guru.



- Tanyakan pelajaran sebelumnya.



- Timbulkan motivasi siswa dengan mengemukakan anekdot atau kasus di masyarakat yang ada kaitannya dengan pelajaran yang akan dibahas.



- Kemukakan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa dan juga tugas-tugas apa yang harus dilakukan disamping dalam demonstrasi nanti.



2) Kegiatan Inti Pembelajaran



- Mulailah melakukan demonstrasi sesuai yang telah direncanakan dan dipersiapkan oleh guru.



- Pusatkan perhatian siswa kepada hal-hal penting yang harus dikuasai dari demonstrasi yang dilakukan oleh guru sehingga semua siswa mengikuti jalannya demonstrasi dengan sebaik- baiknya.



- Ciptakan suasana kondusif dan hindari suasana yang menegangkan.



- Berikan kesempatan kepada siswa untuk aktif dan kritis mengikuti proses demonstrasi termasuk memberi kesempatan bertanya dan komentar-komentar.



3) Kegiatan Mengakhiri Pembelajaran



- Meminta siswa merangkum atau menyimpulkan pokok-pokok atau langkah- langkah kegiatan demonstrasi.



- Memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya mengenai hal-hal yang belum dipahami.



- Melakukan evaluasi, baik evaluasi hasil belajar maupun evaluasi bersama tentang jalannya proses demonstrasi.



- Tindak lanjut baik berupa tugas-tugas berikutnya maupun tugas-tugas untuk mendalami materi yang baru diajarkan.







©tetap belajar

Pengertian metode dan metodologi Penelitian

Metodologi Penelitian Berasal dari kata



Metode artinya cara yang tepat untuk melakukan sesuatu



Logos artinya ilmu atau pengetahuan



Jadi Metodologi adalah cara melakukan sesuatu dgn menggunakan pikiran secara seksama utk mencapai suatu tujuan. sedangkan Penelitian adalah suatu kegiatan utk mencari, mencatat, merumuskan & menganalisis sampai menyusun laporannya, terhadap suatu permasalahan.



Pengertian Metodologi Penelitian Menurut para Ahli


  1. Pengertian metodologi penelitian menurut David. H. Peny yaitu Metodologi Penelitian adalah Pemikiran yang sistematis mengenai berbagai jenis masalah yang pemecahannya memerlukan pengumpulan dan penafsiran fakta-fakta.

  2. Pengertian metodologi penelitian menurut J. Suprapto MA yaitu Metodologi Penelitian adalah Penyelidikan dari suatu bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta atau prinsip-prisnsip dengan sabar, hati-hati serta sistematis.

  3. Pengertian metodologi penelitian menurut Sutrisno Hadi MA yaitu Metodologi Penelitian adalah Usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan.




Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut bisa disimpulkan bahwa

pengertian metodologi Penelitian adalah Suatu cabang ilmu pengetahuan yang membicarakan / mempersoalkan mengenai cara-cara melaksanakan penelitian (yaitu meliputi kegiatan-kegiatan mencari, mencatat, merumuskan, menganalisis sampai menyusun laporannya) berdasarkan fakta-fakta atau gejala-gejalah secara ilmiah. Atau bisa dikatakan Metodologi Penelitian adalah Ilmu yg mempelajari cara-cara melakukan pengamatan dengan pemikiran yang tepat secara terpadu melalui tahapan-tahapan yang disusun secara ilmiah untuk mencari, menyusun serta menganalisis dan menyimpulkan data-data, sehingga dapat digunakan untuk menemukan, mengembangkan dab menguji kebenaran suatu pengetahuan berdasarkan bimbingan Tuhan. Berikut ada banyak artikel yang terkait dengan metodologi dan metode penelitian.©tetap belajar

uji validitas dan reliabilitas instrumen penelitian dengan spss


Uji Validitas Item adalah uji
statistik yang digunakan guna menentukan seberapa valid suatu item
pertanyaan mengukur variabel yang diteliti. Uji Reliabilitas item adalah
uji statistik yang digunakan guna menentukan reliabilitas serangkaian
item pertanyaan dalam kehandalannya mengukur suatu variabel.








1. Uji Validitas











Uji Validitas Item atau butir dapat
dilakukan dengan menggunakan software SPSS.[1] Untuk proses ini, akan
digunakan Uji Korelasi Pearson Product Moment. Dalam uji ini, setiap
item akan diuji relasinya dengan skor total variabel yang dimaksud.
Dalam hal ini masing-masing item yang ada di dalam variabel X dan Y akan
diuji relasinya dengan skor total variabel tersebut.






Agar penelitian ini lebih teliti,
sebuah item sebaiknya memiliki korelasi (r) dengan skor total
masing-masing variabel ≥ 0,25.[2] Item yang punya r hitung < 0,25
akan disingkirkan akibat mereka tidak melakukan pengukuran secara sama
dengan yang dimaksud oleh skor total skala dan lebih jauh lagi, tidak
memiliki kontribusi dengan pengukuran seseorang jika bukan malah
mengacaukan.





Cara melakukan Uji Validitas dengan SPSS:






  1. Buat skor total masing-masing variable.

  2. Klik Analyze > Correlate > Bivariate

  3. Masukkan seluruh item variable x ke Variables

  4. Masukkan total skor variable x ke Variables

  5. Ceklis Pearson ; Two Tailed ; Flag

  6. Klik OK

  7. Lihat kolom terakhir. Nilai >= 0,25.

  8. Lakukan hal serupa untuk Variabel Y.








2. Uji Reliabilitas





Uji Reliabilitas dilakukan dengan uji Alpha Cronbach. Rumus Alpha Cronbach sebagai berikut:









Note:









Jika nilai alpha > 0,7 artinya
reliabilitas mencukupi (sufficient reliability) sementara jika alpha
> 0,80 ini mensugestikan seluruh item reliabel dan seluruh tes secara
konsisten secara internal karena memiliki reliabilitas yang kuat.[3]
Atau, ada pula yang memaknakannya sebagai berikut:






  • Jika alpha > 0,90 maka reliabilitas sempurna

  • Jika alpha antara 0,70 – 0,90 maka reliabilitas tinggi

  • Jika alpha antara 0,50 – 0,70 maka reliabilitas moderat

  • Jika alpha < 0,50 maka reliabilitas rendah[4]













Jika alpha rendah, kemungkinan satu
atau beberapa item tidak reliabel: Segera identifikasi dengan prosedur
analisis per item. Item Analysis adalah kelanjutan dari tes Aplha
sebelumnya guna melihat item-item tertentu yang tidak reliabel. Lewat
ItemAnalysis ini maka satu atau beberapa item yang tidak reliabel dapat
dibuang sehingga Alpha dapat lebih tinggi lagi nilainya.








Reliabilitas item diuji dengan
melihat Koefisien Alpha dengan melakukan Reliability Analysis dengan
SPSS ver. 16.0 for Windows. Akan dilihat nilai Alpha-Cronbach untuk
reliabilitas keseluruhan item dalam satu variabel. Agar lebih teliti,
dengan menggunakan SPSS, juga akan dilihat kolom Corrected Item Total
Correlation.





Nilai tiap-tiap item sebaiknya ≥
0.40 sehingga membuktikan bahwa item tersebut dapat dikatakan punya
reliabilitas Konsistensi Internal.[5] Item-item yang punya koefisien
korelasi < 0.40 akan dibuang kemudian Uji Reliabilitas item diulang
dengan tidak menyertakan item yang tidak reliabel tersebut. Demikian
terus dilakukan hingga Koefisien Reliabilitas masing-masing item adalah ≥
0.40.





Cara Uji Reliabilitas dengan SPSS:






  1. Klik Analyze > Scale > Reliability Analysis

  2. Masukkan seluruh item Variabel X ke Items

  3. Pastikan pada Model terpilih Alpha

  4. Klik OK







Jika nilai alpha > 0,7 artinya
reliabilitas mencukupi (sufficient reliability) sementara jika alpha
> 0,80 ini mensugestikan seluruh item reliabel dan seluruh tes secara
konsisten secara internal karena memiliki reliabilitas yang kuat.[6]
Atau, ada pula yang memaknakannya sebagai berikut:






  • Jika alpha > 0,90 maka reliabilitas sempurna

  • Jika alpha antara 0,70 – 0,90 maka reliabilitas tinggi

  • Jika alpha antara 0,50 – 0,70 maka reliabilitas moderat

  • Jika alpha < 0,50 maka reliabilitas rendah[7]







----------------------------





Referensi


[1] David D. Vaus, Analyzing Social
Science Data: 50 Key Problems in Data Analysis, (Thousand Oaks: Sage
Publications, 2002) p.31-9.


[2] Marguerite G. Lodico, Dean T.
Spaulding, Katherine H. Voegtle, Methods in Educational Research: From
Theory to Practice (San Fransisco: John Wiley & Sons, Inc., 2006)
p.211.


[3] Sebastian Rainsch, Dynamic
Strategic Analysis: Demystifying Simple Success Strategies (Wiesbaden:
Deutscher Universitasts-Verlag, 2004) p.167.


[4] Perry Roy Hilton and Charlotte Brownlow, SPSS Explained, (East Sussex : Routledge, 2004) p.364.


[5] John W. Lounsbury, Lucy
W.Gibson, Richard A. Saudargas, “Scale Development” dalam Frederick T.L.
Leong and James T. Austin, The Psychology Research Handbook: A Guide
for Graduate Students and Research Assistants (Thousand Oaks: Sage
Publications, Inc., 2006) p.144.


[6] Sebastian Rainsch, Dynamic ..., loc.cit.


[7] Perry Roy Hilton and Charlotte Brownlow, SPSS ...., op.cit. p. 364.